Perjalanan Hidup Abunawas oleh Eviana

Profil Tentang Abunawas oleh Eviana - Abunawas ya, abunawas, mendengar nama abunawas ini maka yang ada di ingatan kita adalah orang yang jenaka, lucu, cerdik, orang tentu sudah tau tentang kelucuan abunawas ini, tapi sedikit yang tahu tentang perjalanan hidup abunawas, oleh dari itu Eviana di sini akan menceritakan perjalanan hidup abunawas dan di lahirkan sampai dia di makamkan, tapi saya di sini hanya menceritakan sekilas saja, sebab cerita beliau tidak akan pernah ada habis nya, meskipun beliau sudah tidak ada di zaman kita, tapi jika kita mendengar ceritanya serasa, kita berada di zaman abunawas, walaupun beliau hidup di zaman yang sangat jau dari kita. Langsung saja ini lah Perjalanan Hidup Abunawas.

Abunawas dan anak-anak

Biografi
Abu Nawas adalah salah seorang penyair dan pujangga sastra Arab klasik. Namanya sering dikaitkan dengan cerita Seribu Satu Malam. Ia dilahirkan pada 145 H atau 747M di kota Ahvaz Persia (Iran). Abu Nawas memiliki nama asli Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami, dari ayah seorang anggota legiun militer Marwan II yaitu Hani Al Hakam yang seorang Arab dan ibu seorang Persia bernama Jalban dimana pekerjaannya adalah mencuci kain wol.

Sejak kecil Abu Nawas sudah yatim, ibunya harus banting tulang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.  Abu Nawas juga seperti anak lainnya dimana umurnya waktu kecil dihabiskan untuk belajar pada orang terpelajar lainnya. Abu Nawas sangat menyukai syair. Ia belajar sastra Arab dari Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Abu Nawas juga memperdalam Al Quran dari seorang ahli yang bernama Ya’qub al Hadrami sedangkan ilmu hadist belajar dari Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al Qattan dan Azhar bin Sa’ad as Samman.

Orang-orang yang sangat mempengaruhi gaya bahasa Abu Nawas dalam menulis syair adalah Walibah bin Habab al-Asadi. Ia adalah penyair dari Kufah yang sangat tertarik dengan bakat Abu Nawas. Dari penyair inilah akhirnya gaya bahasa syair Abu Nawas yang awalnya kasar menjadi lebih halus, berkelas dan teratur. Dalam gemblengan Walibah bin Habab al-Asadi, Abu Nawas berhasil mencapai puncak karirnya.

Menjadi Penyair Terkenal

Dari lahir sampai Mati


Abu Nawas yang sudah terkenal itu kemudian pindah ke Baghdad yang merupakan pusat peradapan dan kejayaan dunia saat itu (mungkin kalau sekarang seperti Amerika). Di pusat peradapan Dinasti Abbasyiah inilah ia kemudian banyak bergaul dengan para bangsawan. Abu Nawas sering bersyair untuk para bangsawan dan saudagar. Tentunya syairnya banyak yang berisi kata-kata pujian dan sanjungan agar mereka senang dan memberikan upah yang tinggi untuk Abu Nawas. Ia jadi terkenal sebagai penyair yang menjilat penguasa untuk kepentingan dirinya.

Gaya hidup Abu Nawas menjadi sering glamour dan hura-hura, banyak hal kontroversial yang dilakukannya. Ia tampil sebagai tokoh unik sekaligus kontroversial dalam khasanah sastra Arab.

Didalam suatu kitab sejarah sastra Arab yang berjudul Al-Wasith fil Adabil 'Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas diceritakan sebagai seorang penyair dan sastrawan yang multi talenta, cerdik, multivisi, tajam berkata-kata dan tentunya jenaka. Ia sebenarnya juga menulis karya-karya ilmiah akan tetapi jarang dibahas dan tertutup oleh karya syairnya. Ia terkenal sebagai penyair yang jenaka, bertingkah lucu dan tak lazim.

Kepandaiannya dalam menulis syair dan puisi memikat penguasa saat itu yaitu Raja Harun Al Rasyid yang kemudian memanggilnya ke istana untuk dijadikan syairul bilad atau penyair istana.

Abu Nawas Dipenjarakan

Abu Nawas tak selalu berlimpah kemewahan, Di akhir hidupnya ia malah terkena masalah dengan penguasa setempat. Ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudar untuk Khalifah, tak disangka Khalifah tersinggung dengan puisi Abu Nawas. Sang penguasa akhirnya menjebloskan Abu Nawas ke penjara.

Di penjara inilah kehidupan Abu Nawas berubah drastis yang semula penuh kemewahan menjadi penuh keprihatinan, namun justru saat itulah sisi spiritualnya terketuk. Ia jadi sering mendekatkan diri pada Allah. Syair-syair dan puisinya yang awalnya berisi kepongahan dan keglamoran menjadi lebih bernuansa religi dan kepasrahan kepada Allah.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

 Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

                                                                        TAMAT
Penulis ; Mas Agus
Editor : Norma Eviana
Trimakasih Kepada :
Google, Blogger, Tri, Lenovo, Adsense, LG.

Sya'ir abunawas I'tiraf pengakuan seorang hamba

Sya'ir abunawas I'tiraf pengakuan seorang hamba - Selain Kisah lucu dari abunawas, abunawas juga seorang penya'ir handal di zaman nya, salah satu sya'ir terkenal abunawas adalah I'tiraf (Pengakuan seorang hamba) Lirik ini tidak hanya untuk orang muslim dan muslimat tapi juga untuk seluruh manusia, karna orang kristen di arab menyebut tuhan itu sama dengan islam yaitu illah yang artinya rabb (Tuhan). Ini lah sya'ir abunawas yang menyentuh hati.


. إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka jahim
.
فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
.
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun.
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Do'a ini baik di baca setelah sholat, sambil menangis dan memohon ampunan nya. semoga dosa kita di ampuni oleh Allah subhanallah, Amiin ya rabb.

Baca juga : Abunawas dan pengemis Terbaru 2015

Cerita Abunawas dan Pengemis terbaru 2015

Cerita Abunawas dan Pengemis - Hay jumpa lagi bersama saya Eviana, di artikel kali ini saya akan menceritakan tentang kisah abunawas, pasti sudah tau dong siapa abunawas, Abunawas merupakan salah sorang sufi, penyair yang terkenal di zaman khalifah harun Ar-rasyid, sakingcerdik nya, abunawas ini sering di uji oleh raja harun. Baca Ceritanya di bawah.

Baca Juga : Perjalanan Hidup Abunawas Oleh Eviana

Di suatu kota bagdad Ada seorang saudagar yang memiliki suatu kolam yang airnya dikenal benar-benar dingin. Konon tak seorangpun yang tahan berendam didalamnya berlama-lama, terlebih sampai separuh malam.

“Siapa yang berani berendam semalam di kolamku, saya beri hadiah sepuluh ringgit, ” kata saudagar itu. Ajakan itu mengundang beberapa orang buat mencobanya. Akan tetapi tak ada yang tahan semalam, paling lama cuma dapat hingga sepertiga malam.

Disuatu hari datang seorang pengemis kepadanya. “Maukah anda berendam didalam kolamku ini semalam? Bila anda tahan saya beri hadiah sepuluh ringgit, ” kata si saudagar.

“Baiklah akan kucoba," jawab si pengemis. Lalu dicelupkannya ke-2 tangan serta kakinya ke dalam kolam, memanglah air kolam itu dingin sekali. “Boleh.. lumayan, ” tuturnya lalu.

“Kalau demikian kelak malam anda dapat berendam disitu," kata si saudagar.

Menunggu datangnya malam, si pengemis pulang dahulu pingin memberitahu anak istrinya tentang gagasan berendam di kolam itu.

“Istriku,” kata si pengemis sesampainya dirumah. “Bagaimana pendapatmu apabila saya berendam semalam di kolam saudagar itu buat memperoleh duit sepuluh ringgit? Bila anda setuju saya bakal mencobanya.”

“Setuju, ” jawab si istri, “Moga-moga Tuhan menguatkan tubuhmu.”

Lalu pengemis itu kembali ke tempat tinggal saudagar. “Nanti malam jam delapan anda bisa masuk ke kolamku serta bisa keluar jam enam pagi,” kata si saudagar, “Jika tahan bakal ku bayar upahmu.”


Pengemis itu pun menjalani tantangannya...

Setelah tiba waktunya masuklah si pengemis ke dalam kolam, hampir tengah malam ia kedinginan hingga tak tahan lagi serta pingin keluar, namun lantaran mengharap duit upah sepuluh ringgit, ditahannya maksud itu sekuat tenaga. Ia lalu berdoa pada Tuhan supaya airnya tak terlampau dingin lagi. Nyatanya doanya dikabulkan, ia tak merasa kedinginan lagi. Kurang lebih jam dua pagi anaknya datang menyusul. Ia cemas jangan-jangan bapaknya mati kedinginan. Hatinya benar-benar senang saat dipandang bapaknya tetap hidup. Lalu ia menyalakan api di pinggir kolam serta menanti hingga pagi.

Siang harinya pengemis itu bangkit dari kolam serta buru-buru menjumpai si saudagar buat minta upahnya. Akan tetapi saudagar itu menampik membayar, “Aku tidak ingin membayar, lantaran anakmu bikin api di pinggir kolam, anda pasti tak kedinginan.”

Akan tetapi si pengemis tidak ingin kalah, “Panas api itu tak hingga ke tubuh aku, tak hanya apinya jauh, aku kan berendam di air, masakan api dapat masuk ke dalam air?”

“Aku terus tidak ingin membayar upahmu,” kata saudagar itu ngotot. “Sekarang terserah anda, akan melapor atau berkelahi denganku, saya tunggulah.” Dengan perasaan gondok pengemis itu pulang ke tempat tinggal, “Sudah kedinginan 1/2 mati, tak bisa duit lagi, ” pikirnya. Ia lalu menyampaikan penipuan itu pada seorang hakim. Boro-boro pengaduannya di dengar, Hakim itu terlebih membetulkan sikap sang saudagar. Lalu ia berupaya menjumpai beberapa orang besar yang lain buat di ajak bicara, akan tetapi ia terus disalahkan lumayan.

“Kemana lagi saya bakal menyampaikan nasibku ini,” kata si pengemis dengan suara putus harapan. “Ya Allah, engkau jugalah yang tahu nasib hamba-Mu ini, mudah-mudahan tiap-tipa orang yang benar engkau menangkan.” Doanya dalam hati.

Ia juga jalan ikuti langkah kakinya dengan perasaan yang makin dongkol. Dengan takdir Allah ia bersua dengan Abu Nawas di pojok jalur. “Hai, hamba Allah,” Bertanya Abu Nawas, saat lihat pengemis itu terlihat benar-benar sedih. “mengapa kamu terlihat murung sekali? Walau sebenarnya hawa sedemikian cerah. ” “Memang benar hamba tengah dilanda malang, ” kata si pengemis, lalu dikisahkan musibah yang menimpa si pengemis sembari menyampaikan nasibnya.

“Jangan sedih lagi,” kata Abu Nawas mudah. “Insyaallah saya bisa menolong merampungkan masalahmu. Besok datanglah ke rumahku serta lihatlah langkahku, pasti anda menang dengan izin Allah.”

“Terima kasih banyak, kamu bersedia menolongku, ” kata si pengemis. Lalu keduanya berpisah. Abu Nawas tak pulang ke tempat tinggal, tetapi menghadap Baginda Sultan di Istana. “Apa berita, hai Abu Nawas? ” sapa Baginda Sultan demikian lihat batang hidung Abu Nawas. “Ada persoalan apa kiranya hari ini? ”

“Kabar baik, ya Tuanku Syah Alam, ” jawab Abu Nawas. “jika tak keberatan patik silakan baginda datang kerumah patik, karena patik mempunyai hajat.” “Kapan saya harus datang ke rumahmu? ” bertanya baginda Sultan. “Hari Senin jam tujuh pagi, tuanku,” jawa Abu Nawas. “Baiklah,” kata Sultan, "saya pasti datang ke rumahmu.”

Demikian keluar dari Istana, Abu Nawas segera ke tempat tinggal saudagar yang mempunyai kolam, lalu ke tempat tinggal tuan hakim serta pembesar- pembesar yang lain yang sempat dihubungi oleh si pengemis. Pada mereka Abu Nawas mengemukakan undangan buat datang kerumahnya senin depan.

Hari senin yang ditunggu, dari jam tujuh pagi tempat tinggal Abu Nawas sudah penuh dengan tamu yang diundang, terhitung baginda Sultan. Mereka duduk di permadani yang pada mulanya sudah digelar oleh tuan tempat tinggal seperti dengan pangkat serta kedudukan tiap-tiap. Sesudah seluruhnya terkumpul, Abu Nawas mohon pada sultan buat pergi kebelakang tempat tinggal, ia lalu menggantung suatu periuk besar pada suatu pohon, menjerangnya – menyimpan diatas api.

Tunggulah mempunyai tunggulah, Abu Nawas tak terlihat batang hidungnya, maka Sultan juga memanggil Abu Nawas, “kemana kiranya si Abu Nawas, telah masakkah nasinya atau belum? ” gerutu Sultan.

Rupanya gerutuan Sultan di dengar oleh Abu Nawas, ia juga menjawab, “Tunggulah sebentar lagi, tuanku Syah Alam. ”

Baginda juga diam, serta duduk kembali. Akan tetapi saat matahari sudah tiba ke ubun-ubun, nyatanya Abu Nawas tidak lumayan nampak di hadapan beberapa tamu. Perut baginda yang buncit itu sudah keroncongan. “Hai Abu Nawas, bagaimana dengan masakanmu itu? Saya telah lapar, kata Baginda. “Sebentar lagi, ya Syah Alam, ” sahut tuan tempat tinggal.

Baginda tetap sabar, ia lalu duduk kembali, namun saat saat dzuhur telah hampir habis tidak lumayan ada hidangan yang keluar, baginda tidak sabar lagi, ia juga menyusul Abu Nawas di bagian belakang tempat tinggal, di ikuti tamu-tamu yang lain. Mereka ingin tahu apa sebenarnya yang ditangani tuan tempat tinggal, nyatanya Abu Nawas tengah mengipa-ngipas api di tungkunya.

“Hai Abu Nawas, kenapa anda bikin api dibawah pohon bagai itu? Tanya baginda Sultan.

Abu Nawas juga bangkit, untuk mendengar pernyataan baginda. “Ya tuanku Syah Alam, hamba tengah memasak nasi, sebentar lagi lumayan masak,” jawabnya.

“Menanak nasi? ” bertanya baginda, “Mana periuknya? ” “Ada, tuanku, ” jawab Abu nawas sembari mengangkat mukanya ke atas. “Ada? ” bertanya beginda keheranan. “Mana? ” ia mendongakkan mukanya ke atas ikuti gerak Abu Nawas, terlihat diatas sana suatu periuk besar bergantung jauh dari tanah.

“Hai, Abu Nawas, telah gilakah anda? ” bertanya Sultan. “Memasak nasi bukan hanya demikian langkahnya, periuk diatas pohon, apinya dibawah, anda tunggulah sepuluh hari juga beras itu tak bakalan jadi nasi. ”

“Begini, Baginda, ” Abu Nawas berupaya menuturkan tindakannya. “Ada seorang pengemis berjanji dengan seorang saudagar, pengemis itu disuruh berendam dalam kolam yang airnya benar-benar dingin serta bakal diupah sepuluh ringgit bila dapat bertahan satu malam. Si pengemis setuju lantaran mengharap upah sepuluh ringgit serta sukses melaksanakan janjinya. Namun si saudagar tidak ingin membayar, dengan argumen anak si pengemis bikin api di tepi kolam.” Lalu seluruhnya dikisahkan pada Sultan lengkap dengan sikap tuan hakim serta beberapa pembesar yang membetulkan sikap si saudagar. “Itulah penyebab patik berbuat bagai ini.”

“Boro-boro nasi itu bakal masak, ” kata Sultan, “Airnya saja tak akan panas, lantaran apinya terlampau jauh. ” “Demikian juga halnya si pengemis, ” kata Abu Nawas lagi. “Ia didalam air serta anaknya bikin api di tanah jauh dari tepi kolam. Namun saudagar itu menyampaikan bahwasanya si pengemis tak berendam di air lantaran ada api di tepi kolam, hingga air kolam jadi hangat. ”

Saudagar itu pucat mukanya. Ia tak bisa membantah kalimat Abu Nawas. Begitupun beberapa pembesar itu, lantaran memanglah demikianlah halnya. “Sekarang saya ambillah ketentuan begini, ” kata Sultan. “Saudagar itu mesti membayar si pengemis seratus dirham serta di hukum sepanjang sebulan lantaran sudah berbuat salah pada orang miskin. Hakim serta beberapa orang pembesar di hukum empat hari lantaran berbuat tak adil serta menyalahkan orang yang benar."

Waktu itu lumayan si pengemis beroleh uangnya dari si saudagar. Sesudah mengemukakan hormat pada Sultan serta berikan salam pada Abu Nawas, ia juga pulang dengan riangnya. Sultan lalu memerintah mentrinya buat memenjarakan saudagar serta beberapa pembesar sebelum saat pada akhirnya kembali ke Istana dalam situasi lapar serta dahaga.


Semoga dengan adanya cerita lucu abu nawas diatas bisa menjadi hiburan untuk kalian para pembaca, selain itu juga bisa dimengerti dari makna cerita lucu diatas untuk diterapkan kedalam kehidupan kita.

Abunawas Menipu Gajah

Abunawas Menipu Gajah - Abunawas merupakan sufi dan sekaligus penya'ir handal di masanya, dia merupakan ulama islam yang berkediaman di iraq, ibukota baghad, dan kali ini Eviana akan berbagi cerita tentang sang penyair lucu ini.

Baca Juga : Syair i'tiraf abunawas



Di suatu hari abunawas berdiam diri di rumahnya, Karena tidak ada yang harus dikerjakan di rumah, Abu Nawas keluar untuk mencari angin.
Jalan-jalan.
Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yang kebetulan berjumpa di tengah jalan.


Berikut Kisah Abu Nawas yang menipu Gajah ajaib:
"Ada kerumunan apa di sana?" tanya Abu Nawas.
"Pertunjukan keliling yang melinatkan gajah ajaib." jawab kawan Abu Nawas tersebut.
"Apa maksudmu dengan gajah ajaib?" tanya Abu Nawas lagi.
"Gajah yang bisa mengerti bahasa manusia dan yang lebih menkjubkan lagi adalah gajah itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja." jawab kawan Abu Nawas.


Abu Nawas makin tertarik.
Ia tidak tahan untuk menyaksikan kecerdikan dan keajaiban binatang raksasa itu.


Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton.
Karena begitu banyak penonton yang menyaksikan pertunjukan itu, sang pemilik gajah dengan bangga menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa saja yang sanggup membuat gajah itu mengangguk-angguk.


Tidak heran bila banyak diantara para penonton yang mencoba untuk maju satu persatu.
Mereka berupaya dengan beragam cara untuk membuat gajah ituk mengangguk-angguk, tetapi usaha mereka sia-sia.
Gajah itu tetap menggeleng-gelengkan kepala.


Melihat kegigihan gajah itu, Abu Nawas semakin penasaran hingga ia maju untuk mencoba.

Setelah berhadapan dengan binatang berbelalai itu, Abu Nawas bertanya,
"Tahukah engkau siapa aku ini?"
Gajah menggeleng.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?" tanya Abu Nawas lagi .
Namun Gajah itu tetap saja menggeleng-gelengkan kepala.


"Apakah engkau takut kepada tuanmu?" tanya Abu Nawas memancing.
Gajah itu mulai ragu.
"Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu." lanjut Abu Nawas mengancam.
Akhirnya gajah itu terpaksa mengangguk-angguk.


Atas keberhasilan Abu Nawas membuat gajah itu mengangguk-angguk maka ia mendapat hadiah berupa uang yang banyak.
Bukan main marahnya pemilik gajah itu hingga memukuli binatang yang malang itu.
Pemilik gajah itu malu bukan kepalang.


Pada hari berikutnya, ia ingin menebus kekalahannya.
Kali ini ia melatih gajahnya mengangguk-angguk.
Bahkan ia mengancam akan menghukum berat gajahnya apabila sampai bisa dipancing penonton mengangguk-angguk terutama oleh ABu Nawas.
Tak peduli apapun pertanyaan yang diajukan.


Saat-saat yang dinantikan telah tiba.
Kini para penonton ingin mencoba, harus sanggup membuat gajah itu menggeleng-gelengkan kepala.
Maka seperti hari sebelumnya, banyak para penonton tidak sanggup memaksa gajah itu menggeleng-gelengkan kepala.
Setelah tidak ada lagi yang ingin mencobanya, Abu Nawas maju lagi.
Ia ingin mengulang pertanyaan yang sama.


"Tahukah engkau siapa aku ini?" tanya Abu Nawas.
Gajah itu mengangguik.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?"
Gajah itu tetap mengangguk.


"Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?" pancing Abu Nawas.
Gajah itu tetap mengangguk.
Gajah itu mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas.


Akhirnya Abu Nawa mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam.
"Tahukah engkau apa guna balsam ini?" tanya Abu Nawas.
Gajah itu tetap mengangguk.
"Baiklah, bolehkah kogosok selangkangmu dengan balsam?"
Gajah itu mengangguk lagi.


Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu.
Tentu saja gajah itu merasa agak kepanasan dan mulai agak panik.
Kemudian ABu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar.
Bungkusan itu juga berisi balsam.


"Maukah engkau bila balsam ini aku habiskan untuk menggosok selangkangmu?" ancam Abu Nawas.
Gajah itu mulai ketakuta.
Dan rupanya ia lupa ancaman tuannya sehingga terpaksa gajah itu menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah.


Abu Nawas dengan kecerdikan dan akalnya yang licin mampu memenangkan sayembara itu.
Abu Nawas telah meruntuhkan kegigihan gajah yang dianggap cerdik itu.
Pemilik gajah itu marah bukan main dan tidak tahu lagi harus bagaimana mengalahkan Abu Nawas.

Baca juga : Cerita Abunawas dan Pengemis

Cara meninggi kan badan ala Agus BKJ

Cara meninggi kan badan ala Agus BKJ - Selamat pagi temen, ini kali pertamanya saya ngepost,, nama nya baru belajarkan ya salah sedikit enggak papa kan?, Baik lah kali ini saya akan berbagi trik cara meninggikan badan,, langsung aja ya Enggak usah basa basi kita mulai cek idot...

1. siap kan baju yang berukuran lebih besar, kan,, eggak mau badan kita besar menggunakan baju yg kekecilan.
2. setiap sebelum tidur ,, bunyikan sendi tulang kita lalu renggang kan badan,, kaya kucing itu loh,, kaya ini loh.


 3. berdo`a kepa Allah SWT,, karna segala usaha tisak akan berasil jika kita tidak berdo`a

 oke cukup sekian postingan saya kali ini
di akhir waktu kita akan berjumpa lagi
Wassalamu`alaikum wr wb